SUATU hari di tahun 1975, seorang lelaki berumur 32 tahun berdiri tegak di sebuah bukit. Pandangannya memutar, menerobos semak, jalan setapak, petak sawah, pepohonan sengon hingga jajaran pinus yang membentuk hamparan hijau di antara kaki gunung Palasari dan Manglayang. Beberapa rumah penduduk lebih nampak seperti gubuk. Sosok pemuda berbadan kekar itu mengalihkan tatapannya ke langit yang cerah sambil menengadahkan tangannnya, Dengan lirih dia berdoa, “Ya Allah, saya ingin bukit ini jadi tempat amal saya.”Lelaki muda itu bernama Yosis Yuswanto. Sosok yang tak akan dilupakan Warya Suwiryo, Ketua DPRa PKS Cipanjalu, Cilengkrang, Bandung. Dia bukan sekadar guru ngaji dan bela diri, tapi juga seorang bapak yang tak pernah lelah mengajarkan makna hidup. “Beliau yang merintis pendirian pesantren ini dengan segala pengorbanannya,” ujar Warya, satu-satunya santri generasi awal yang masih tinggal di pesantren Al Faridzi. Bapak dua anak itu pun kini menjadi satu-satunya ustadz pesantren yang berdiri di atas bukit Cipanjalu itu.
Cipanjalu memang bukan daerah terpencil seperti beberapa kawasan di luar Jawa. Ia berada di kaki selatan gunung Manglayang, yang bisa dijangkau dengan kendaraan kurang lebih 15 menit dari Kecamatan Ujung Berung, Kota Bandung. Tapi jangan bayangkan daerah ini seperti tetangganya, Ujung Berung, yang berkarakter metropolis. Kurang lebih 80 persen warga Cipanjalu hanya lulus SD atau tidak sekolah sama sekali. Sebanyak itu pula yang bermata pencaharian petani dan buruh.
Secara ekonomi, kondisi masyarakat Cipanjalu memang memprihatinkan. Tahun 1996, terjadi krisis kelaparan di desa yang dihuni sekitar 3000 rumah tangga ini. “Tepatnya di Dusun Palintang. Mereka bergantung pada lahan milik Perhutani. Begitu ada larangan memanfaatkan lahan, terjadilah krisis pangan itu,” cerita Warya.
Kemiskinan seolah tak pernah lepas dari desa berbukit itu. Kemiskinan yang terus diwariskan dar generasi ke generasi. Sebuah ironi memang, karena ini bukan kawasan yang tidak subur. Sebagaimana kawasan pegunungan lainnya, berbagai tanaman industri bisa tumbuh. Di dusun Palipur misalnya, perkebunan Kina tumbuh dengan subur. “Palipur merupakan kawasan perkebunan Kina terbesar di Jawa Barat,” tambah Warya.
Kemiskinan memang dekat dengan kebodohan. Semangat generasi mudanya untuk sekolah rendah sekali. “Mereka berpikir, buat apa sekolah kalau akhirnya juga ngarit atau pergi ke sawah lagi.”
Warya tahu persis kondisi masyarakat Cipanjalu. Bapak dua anak ini sudah menghabiskan waktu 18 tahun di desa ini, sejak di berguru pada H Yosis Yuswanto di padepokan silat Bandar Karimah yang menjadi cikal bakal pondok pesantren Al Faridzi. Pria kelahiran tahun 1975 ini tinggal di sebuah rumah sederhana, berdinding bilik, di sebelah pesantren, persis di pucuk bukit. “Jika Pak Haji Yosis di Bandung, kami lah satu-satunya yang tinggal di sini,” ujar dia. Karena keluarganya tinggal di Kota Bandung, gurunya itu paling tinggal 3 hari di pesantren dalam tiap minggunya.
Hari-hari Warya adalah pengabdian. Suami Yuyun Yulyani ini sebelum subuh harus sudah bangun, melawan gelap dan suhu 16 derajat celcius, untuk membangunkan warga. “Dengan pengumuman melalui speaker atau lantunan al-Qur’an, setidaknya warga tahu bahwa waktu subuh segera tiba.”
Seusai memimpin jamaah sholat subuh dan tilawah Qur’an, Bapak dari Hasan dan Fatimah ini segera bergegas ke kebun untuk mengurus kebunnya. “Saya targetkan urusan kebun bisa selesai sampai duhur, karena usai duhur sering ngisi taklim di masyarakat,” tandas dia. Saat waktu ashar tiba, Ustadz Warya—begitu dia biasa dipanggil masyarakat, harus kembali pesantren, karena para santri telah menunggunya untuk pelajaran al-Qur’an.
Malam hari, terlebih di musim hujan, adalah ujian tersendiri bagi Warya. Hampir tiap malam dia harus turun bukit untuk mengisi beberapa majelis taklim rutin atau permintaan pengajian oleh warga yang memiliki hajat. “Kalau kondisi hujan, kendaraan tak bisa lewat. Jalan tanah menjadi sangat licin seusai diguyur hujan.” Walhasil dia harus naik turun bukit dengan berjalan kaki. Seringkali senternya rusak, sehingga harus menembus malam dengan gelap yang pekat, di jalan yang salah satu sisinya adalah jurang yang curam. Hampir tengah malam dia baru pulang, menjumpai keluarganya yang sudah terlelap dalam mimpi. “Alhamdulillah, istri dan anak bisa memahami semua ini,” ujar dia.
“Itulah yang sering membuat tidur saya tidak nyenyak, membayangkan ustdaz Warya naik turun bukit sendirian hampir tiap malam,” ujar H Yosis, gurunya. Untuk berjumpa dengan kader PKS lainnya tiap pekan, Wiryo juga sudah terbiasa jalan kaki, melewati jalan setapak, menuruni lembah di desa sebelah. “Kalau perginya enak, turun terus. Nah gantian, pulangnya jalanan naik terus hingga hapir satu jam nyampai rumah.”
Warya memang ustadz yang ‘laris’, banyak mengisi berbagai acara di masyarakat, tapi jangan bayangkan seperti mubaligh di daerah perkotaan yang berkecukupan karena menerima ‘amplop’ dari sana-sini. Dia tak pernah mau menerima uang sepeser pun seusai acara, karena selalu ingat pesan gurunya, “Kalau kamu terima amplop, maka selesai sudah dakwah.” Warya bertekad untuk tidak menjadikan aktivitas dakwah sebagai sumber penghasilan. “Kami berpendirian, itu semua adalah tabungan untuk akhirat. Untuk makan, cukuplah dari kebun,” papar dia.
Kemandirian ekonomi memang pelajaran tersendiri yang diterima Warya dari gurunya. Petuah H Yosis, “Jadilah kaya sebelum berdakwah.” Kaya tak berarti harus menunggu bergelimanng uang untuk kemudian baru berjuang. “Kaya berarti kemandirian ekonomi, kita bisa mencukupi kebutuhan dasar hidup kita, sehingga tidak menggantungkan hidup dari dakwah yang kita jalani.”
Setelah sekian lama mendampingi warga untuk mengenal agama tak berarti tantangan kian ringan. “Sejak pesantren berdiri tahun 1988 hingga kini, belum banyak yang berubah dari masyarakat. Mungkin masih ada 50 persen warga yang untuk sholat wajib saja masih susah.”
Masyarakat Cipanjalu selama ini memang di kenal jauh dari agama. Secara budaya, mereka masih dalam kawasan Ujung Berung. “Berung itu artinya buruk. Jadi sejarahnya, Ujung Berung itu berarti puncaknya perangai yang buruk,” terang Warya.
Pesantren tak pernah memungut bayaran dari para santri. Semua biaya operasional ditanggung H. Yosis. “Bahkan dulu ketika perekonomian Pak Haji bagus, para santri justru dibayar.” Tetapi H. Yosis tak merasa bergelimang uang. “Ini keajaiban dari Allah. Keajaiban diberikan Allah kepada orang yang percaya keajaiban.”
H. Yosis mengaku, rezeki Allah tak pernah berhenti. “Cacing saja yang tidak ngantor bisa hidup, kok,” tandasnya. “Kaidah rezeki itu tidak matematis. Hasil tak mesti menggambarkan proses. Inilah yang saya sebut keajaiban.”
Warya mencoba untuk tegar mengemban amanah dakwah. Tidak ingin berpindah lokasi, mencari medan dakwah yang lebih mudah? “Kalau dalam lintasan pikiran memang pernah ada, karena banyak juga tawaran kerja di kota. Belum lagi permintaan keluarga. Di Sumedang, tempat kelahiran saya, ada tanah yang cukup luas. Saya diminta mengeolanya.” Tetapi, sang ustadz punya pandangan berbeda. “Ini adalah tugas. Seperti di medan perang, haram hukumnya untuk mundur,” tandas dia.
Pelajaran kegigihan gurunya pula lah yang terus menyalakan semangatnya untuk tinggal di atas bukit, berhalaman rumput setinggi 30 cm. Seperti dituturkan sendiri oleh H Yosis, masa-masa sulit adalah bagian tak terpisahkan dari pondok pesantren al-Faridzi. Berawal dari keinginan mengamalkan ilmu beladiri, H.Yosis kemudian berpikir untuk merintis sebuah pesantren.
Tahun 1977, menjelang pemilu, H. Yosis berkisah, bersama beberapa teman, mereka mendirikan sholat Jumat di sebuah rumah kosong. “Ada warga yang mengintip, mereka menyatakan ingin sholat juga. Padahal waktu itu sholat Jumat darurat, karena jauh dari masjid.” Tapi peristiwa itu justru menyadarkan H.Yosis bahwa warga butuh fasilitas agama dan perlu bimbingan keagamaan. Sholat Jumat di rumah itu berlanjut, sampai kemudian berhadapan dengan kebijakan aparat setempat. “Kami dianggap membawa agama baru. Bahkan lurah waktu itu menuduh kami orang PKI,” kenang dia.
Masa-masa menjelang pemilu di zaman Orde Baru waktu itu memang penuh fitnah. H. Yosis berkali-kali harus berurusan dengan aparat. Dia tak kurang akal. Agar dakwah terus berlanjut, digelarlah penataran P4 di tempat itu. “Dan ajaibnya, sejak itu kita tak punya masalah dengan aparat,” kenangnya sambil tertawa.
Ujian lain adalah tanggapan warga yang dingin, bahkan terkesan melecehkan. “Saya masih ingat sewaktu menjadi santri dulu. Ketika kita kumandangan adzan, warga tak hanya cuek, tapi juga mengolok-olok,” tambah Warya.
Jika batu saja bisa berlobang karena air, apalagi hati masyarakat. Mereka mulai tergerak. “Warga mulai memperbolehkan anak-anaknya untuk nyantri ke sini, sampai jumlahnya lebih dari seratus waktu itu,” ujar H. Yosis.
Tapi ujian itu kembali datang. Seperti biasa, setiap hari minggu santri pergi ke hutan untuk mencari kayu bakar. Dasar anak-anak, mereka tak bisa menahan dirinya untuk bermain-main di hutan di lereng gunung. Salah seorang dari mereka berayun di akar gantung sebuah pohon layaknya Tarzan. Dia jatuh dan tulang rusuknya patah. “Oleh orang tuanya kemudian dibawa ke ahli tulang yang ternyata adalah seorang dukun.” Dukun itu menuturkan, anak itu adalah tumbal pertama pesantren. “Kata dukun itu, dua orang lagi dibutuhkan sebagai tumbal. Sejak saat itu, tak ada warga yang berani menitipkan anaknya ke pesantren.”
Syukurlah, lama-kelamaan masyarakat melupakan tragedi itu dan kini beberapa dari mereka sudah mengijinkan anaknya untuk kembali ke pesantren. “Memang jumlahnya tak sebanyak dulu. Jumlah mereka kini tak sampai 30 anak,” kata Warya.
http://edisant.wordpress.com/2009/02/26/yang-tegar-di-atas-bukit/

Tidak ada komentar:
Posting Komentar